Sedih Ataupun Bahagia, Aku Tetap Menulis

Sedih Ataupun Bahagia, Aku Tetap Menulis
Sedih Ataupun Bahagia, Aku Tetap Menulis

Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada penolakan naskah. Temukan CARA BARU menerbitkan buku yang akan membuat senyum bahagia Anda bertahan lebih lama. Klik di sini.

Ini memang sebuah curhat. Tetapi curhat ini adalah curhat motivatif yang khusus saya persembahakan bagi pengunjung PenulisLepas.com. Apabila di antara pengunjung yang sekarang ini masih berpikir tentang ?bagaimana agar tulisan itu bisa jadi sebuah tulisan, maka inilah kuncinya. Tidak perlu menunggu kehadiran mood. Thinking about mood, it?s just wasting your time and energy!

Mood, tak perlu dicari-cari. Ia terus mengalir dalam diri dan selalu melingkupi diri kita, setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Saya ingin membagi sebuah pengalaman. Bahwa, perasaan ini, tidak harus bahagia dulu, baru kemudian bisa menulis. Atau, sebaliknya, harus bersedih dulu, lantas baru bisa menulis. Keadaan sekitar tak perlu tenang dulu, baru bisa menulis, sebab kekacauan pun, dapat menjadi material sebuah tulisan.

Anda tidak percaya?

  1. Kekacauan menghasilkan tulisan

Ketika pecah perang Israel ? Palestine tahun lalu, ketika orang-orang sekitar sibuk berbicara dan berdebat, saya menulis. Biarlah orang lain sibuk berbicara, karena itu memang pekerjaannya. Saya menulis saja. Sempat menjadi sebuah perdebatan seru. Meskipun ada beberapa yang tidak setuju, bagi saya ini wajar saja. Yang paling penting, portofolio karya tulis saya bertambah.

Selanjutnya, masih ingat peristiwa penggusuran di Koja, Jakarta Utara? Ketika para pakar dan pengamat, sibuk bicara, portofolio karya tulis saya, bertambah satu lagi. Waktu itu saya menulis ?Ketika Koja Berdarah? (dimuat di penulis lepas.com)

  1. Keluh kesah bisa jadi tulisan

kenapa sih teori kok tidak sama dengan praktek?..!!!?

Itu adalah sejenis keluhan, bukan? Sebuah curhat yang ditulis dalam up date status, seorang mahasiswa. Membaca status dia, memotivasi saya untuk mencarikan jalan keluar. Jadilah sebuah judul baru, ?Organisasi, antara teori dan praktik?.

Keluh kesah yang terjadi pada rakyat miskin sejalan dengan maraknya tabung gas yang meledak, menginspirasi saya untuk membuat sebuah tulisan. Tulisan ini sempat dimuat di salah satu media ternama, di Surabaya. Judulnya ?Berdayakan LPPM Kampus?.

  1. Kesulitan pun jadi tulisan

Orang bilang saya ini seorang dosen. Orang juga bilang bahwa saya ini seorang guru. Julukan ini mengganggu dan menggelisahkan saya. Sepertinya ada yang salah. Hati saya menggerakkan saya untuk berfikir ulang tentang julukan itu.  Ternyata orang-orang dan saya, selama ini salah. Sebab, yang senyatanya adalah kebalikannya. Saya bukanlah guru bagi mahasiswa saya. Justru, seluruh mahasiswa itulah para guru saya. Mereka adalah motivator saya. Mereka, dari yang paling rajin hingga yang paling gemar membolos, tetap merupakan inspirator/ispirasi bagi saya. Mereka adalah ?the real guru?, bagi saya.

Anda masih tidak percaya?

Inilah sebuah kisah tentang blog saya. Seperti kita tahu bahwa cuaca belakangan ini tidak begitu bersahabat. Hujan angin, badai dan banjir menghalangi pertemuan saya dan para mahasiswa, guru saya yang sangat saya cintai. Cuaca kerap menggagalkan acara tatap muka kami. Saya berfikir keras, bagaimana agar hubungan kami tidak terputus hanya gara-gara keadaan cuaca yang lebih sering buruk.

Akhirnya, saya ?create? lah sebuah blog, kuliah on line. Saya kabarkan kepada mahasiswa saya, bahwa saya telah memindahkan papan putih yang ada di dalam kelas, ke dunia maya. Dengan demikian, cuaca tak lagi perlu dianggap sebagai penghalang jalannya komunikasi dalam proses pembelajaran. Mereka dan saya dapat hadir kapan saja di sana. Pada sebuah pertemuan, lewat dunia maya. Mereka dan saya, sama-sama bahagia. Sekarang ini, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

Saya sangat bersyukur pernah menjadi murid Writers Academy (SMO). Semoga para guru saya di sini, mendapatkan berkah dari Tuhan atas kesediaannya membimbing saya dalam berbagai cara. Sehingga, bukan hanya saya yang memperoleh manfaatnya, tetapi seluruh mahasiswa, pembaca buku saya dan pengunjung blog saya. Amin!

Jadi, tidak perlu menunggu si cantik ?mood? untuk datang. Sedih atau pun bahagia, tetap menulis!

Salam,

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*