Menulis Itu Bisa Dimulai dari APA lalu MENGAPA

Menulis Itu Bisa Dimulai dari APA lalu MENGAPA
Menulis Itu Bisa Dimulai dari APA lalu MENGAPA

Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada penolakan naskah. Temukan CARA BARU menerbitkan buku yang akan membuat senyum bahagia Anda bertahan lebih lama. Klik di sini.

Kebahagiaan meliputi saya saat membuat tulisan ini. Hampir tak sabar rasanya, harus menunggu ?hari itu? datang. Yaitu, hari ketika saya diijinkanNYA kembali membagi tulisan lain, setelah tulisan yang pertama kemarin. Ini tentang tulisan saya yang berharga sepuluh juta rupiah.

Suatu ketika saya pulang kampung. Jalan menuju ke sana kecil dan berkelok. Tetapi, di samping udaranya masih bersih, pemandangannya pun sangat indah. Orang bilang serasa di Hawai. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah hamparan pohon lontar yang menjulang tinggi, lengkap dengan buahnya yang lebat. Kata pak Lurah, luasnya kira-kira 79 hektar.

Dalam perjalanan itu, saya melihat sekelompok orang. Sepertinya mereka sedang berpesta. Sayangnya, pestanya adalah pesta minum. Yang diminum adalah towak (minuman yang dihasilkan dari tetes bunga lontar, yang bisa memabukkan).

APA yang saya lihat adalah sebuah fenomena. Sebuah kejadian yang memprihatinkan. Ini sangat menarik hati saya. Ya! Memprihatinkan, tapi menarik! Anda bisa bayangkan, nggak?

Sekelompok pemabuk berjoget ria, di bawah rindang hamparan pohon lontar. Lalu benak saya bertanya-tanya, ?Mengapa? Mengapa hal itu bisa terjadi?? Padahal kan, yang namanya lontar, dari daun hingga bunga, dapat dimanfaatkan secara positif. Daunnya untuk membuat ketupat, buahnya untuk minuman macam nata de coco, tetes bunganya yang namanya legen konon dapat meluruhkan batu ginjal, dan keseluruhan hamparannya dapat menjadi pemandangan yang indah.

Dari APA yang saya lihat, saya tulis di komputer saya. Mata saya terpusat pada layar monitor. Tidak ada beban sama sekali. Persis sama dengan yang pernah diajarkan SMO, saya menulis layaknya bercerita saja kepada semua orang. Ya! Siapapun!

Saya kemudian ?menempatkan? diri saya seolah sedang berada di podium. Di depan, saya melihat banyak audiens yang meskipun mabuk, tetapi mereka siap mendengarkan cerita saya. Saya bercerita (baca: menulis),dengan sangat percaya diri. Saya yakin tak satu pun dari mereka berani menghentikan cerita saya. Mereka pasti mengikuti cerita saya dengan khidmad, sampai tuntas. Sebuah cerita tentang APA yang sudah saya saksikan itu.

Saya terus saja bercerita. Setelah tuntas cerita saya tentang APA yang saya lihat, saya berdiskusi dengan mereka tentang apa ya kira-kira yang menjadi penyebab dari kejadian yang tidak mengenakkan itu. Pikiran saya mendapat masukan kilat. Soal pesta minum itu, saya katakan pada audiens saya, ?Mungkin tanaman lontar itu yang menjadi pemicunya. Lontarlah yang menjadi penyebab MENGAPA hingga banyak orang suka berpesta minuman terlarang itu?.

Tiba-tiba ada yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia bertanya, ?Lantas apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita harus menebang pohon-pohon lontar itu??

Tentu saja tidak !? jawab saya.

Jadi bagaimana dong?? mereka serentak memberondong saya dengan satu kalimat. ?Jalan keluarnya bagaimana??

Saya melanjutkan mendongeng, ?Lihatlah, Ibu Wati, bapak Hardi dan Ibu Suminah. Mereka adalah contoh orang-orang pandai. Mereka membuat resep masakan ayam panggang yang sedap, lalu membuka warung sederhana. Menunya terdiri dari ayam panggang dan ikan bakar. Minumannya legen lontar asli dan nata de coco dari bahan buah lontar. Banyak yang menyukai masakan mereka. Penghasilan mereka lumayan, lho. Bahkan semuanya sudah pernah berangkat haji. Kalau Sabtu Minggu, warung mereka ramai. Pengunjungnya bukan hanya dari daerah kabupaten ini, tetapi juga dari kota lain. Sekarang mereka boleh dibilang makmur. Apakah kita tidak ingin seperti mereka? Berbuat yang sedikit lebih baik, aman dan tidak mengganggu ketentraman orang lain?

Kejadian (dialog dalam khayalan) itu menginspirasi saya untuk menulis sebuah karya dengan topik ?Lontar sebagai Penggerak Utama, Kehidupan Ekonomi Masyarakat Desa Hendrosari, Kabupaten Gresik Jawa Timur?. Sekadar untuk memotivasi Anda, bahwa karya tulis ini telah mendapat pendanaan sebesar 10 (sepuluh) juta rupiah dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen DIKTI) Jakarta, untuk kategori karya penelitian Dosen Muda, 2007 lalu.

Jadi sekali lagi, tak perlu jauh-jauh melayangkan pikiran ke mana-mana. Ide selalu tersedia. Jumlahnya tak terhitung. Ide sangat dekat dengan Anda dan saya. Tetapi persoalannya kemudian, bagaimana kita bisa memulai menuliskan ide itu? Very easy! Kita bisa memulai menulis melalui APA (fenomena) yang kita lihat, lalu melanjutkan dengan menulis MENGAPA (hal itu bisa terjadi), dan akhirnya, kita berikan jalan keluarnya. Seperti kisah saya itu.

Selamat mencoba! Salam sukses!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*